Pages

Saturday, March 23, 2013

gapake judul


“PRAAANG!!”. Pecahan pernak-pernik tiba-tiba memenuhi pendengaran  telingaku. Tidak ada yang tahu. Karena semua sibuk dengan urusannya. Ini ulahku memang. Tapi aku tidak pernah berharap untuk melakukannya. Aku bangkit dan beranjak keluar rumah. Entah apa yang aku pikir saat itu. Hanya dengan sebuah ransel entah apa isinya yang menemaniku  mulai berpetualang. 
Yah. Aku hidup dengan berbagai konflik. Mungkin itu yang buat aku tidak mudah untuk percaya bahwa hidup ini indah. Indah pada saatnya dan sulit tidak pada saatnya. Sulit sebenarnya menggambarkan semua ini.
Tubuhku mungil. Tidak tinggi tidak pendek. Raut wajahku mirip artis orang bilang. Entah dari sisi mana mereka melihatku. Tapi entahlah apa yang sama aku dengan seorang artis. Saat ini, tas ransel-lah temanku.  Tidak peduli macam apa styleku malam ini. Cukup dengan  kemeja gombrong selutut jeans biru dan sepatu converse  yang sudah tua. Tidak peduli dengan rambut yang terurai yang bukan style biasaku. Biasanya aku selalu menguncirnya saat berpergian. mungkin mood seseorang berpengaruh dengan stylenya. Entahlah.
Apa yang di kepalaku benar-benar berbeda dengan apa yang ada dihadapanku. Aku seakan terlahir untuk bersahabat dengan segala masalah . siap tidak siap harus aku jalani. Aku coba lakukakn apa yang aku bisa dan pada akhirnya adalah urusan tuhan. 
Malam ini . Awal dari semua dimulai. Semua di buka dengan satu tatapan mata yang seakan berjalan tanpa beban. Tak terarah dan hanya menunggu nasib. hanya saja aku bukan seorang penunggang nasib. aku hidup dengan mempertahankan prinsip.  Menjalani hidup dengan segala yang halal. Walau sederhana tapi itu sulit. karena itulah hari ini aku mulai semuanya dengan prinsip baru. Hidup itu keras,  bukan hanya untain doa yang dapat mengubahnya. Lakukan sesuatu dan tunggu hasilnya dan selalu begitu hidupku.
Menatap dompet yang hanya berisi kartu-kartu penting dan sebuah atm .  Uang 5000 rupiah yang tersisah. Yah ..Aku baru lulus SMA dua minggu lalu. Tiba-tiba aku sadar kalau aku pernah merasakan masa abu-abu .Saat ini aku adalah seorang mahasiswa ilmu komunikasi UI yang masih berjalan 3 hari. Itupun tidak efektif.  Begitulah laporan dari kartu pelajar terbaruku.
Berjalan tanpa arah itulah aku malam itu. Tidak punya tujuan tempat tinggal. Tapi aku  punya tujuan hidup dikepala. Mengingat  trgedi sebelumnya adalah motivasiku saat itu. Aku ingat akan sesuatu. Hari itu, aku masih berseragam abu-abu. Seperti biasa, dulu aku suka mengekspresikan hayalanku. Dan seorang teman  dengan cetusnya tiba-tiba dia bilang  “ ka, lo hidup bukan di dunia maya, coba dong sekali-kali lo liat yang nyata”. Diam seribu bahasa aku saat itu. Aku coba telaah kata-kata itu malam ini. Dan aku tahu itulah yang harus aku lakukan. Bukan lagi saatnya bermimpi malam ini. 
Menyusuri jalanan yang rame kendaraan membuatku semakin merasa kerasnya hidup ini. Kepalaku saat itu dibagi dua. Antara susah dan senang. Susah memikirkan apa yang akan terjadi untuk beberapa waktu nanti. Senang karena aku seakan merasakan ada pintu lebar di depan mata. Tapi itu bukan jaminan.  Aku pergi tanpa ijin. Entah kemana  arah yang harus aku pilih. Tapi itulah pilihan.
Aku terus berjalan dan berfikir mau kemana. Tiba-tiba mataku terarah pada seorang wanita. Keliahatan seperti seorang wanita karir. Wedges 8 sentinya, jas wanita  yang biasa aku lihat  di kantoran dengan celana , yang aku tidak tahu apa itu namanya. Blackberrynya yang sedang di genggam. Melihat itu. Aku segera merogoh saku dan menatap layar iphoneku. Tidak ada satu pun panggilan masuk. Cuma ada beberapa notif dari sosmed  yang  tidak cukup penting.  Ingin rasanya mengadu. Tapi entah ke siapa. Aku kembalikan lagi iphone di saku. Mencari tempat untuk bisa dijadikan sebagai pengalas kaki. Aku duduk bersama beberapa pengemis jalanan di depan ruko  dengan beralas sebuah kardus  kecil. waktu menunjukan pukul 12:12 saat itu. Aku merenung sejenak. Coba menceritakan semua dari awal.
***
Saat ini aku berada di jakarta. Aku bukan asli jakarta. Aku seorang perantau dari indonesia timur. Tidak banyak keluragaku yang bertempat tinggal di jakarta. Sejak SMP aku sudah menjadi bolang. Mungkin beginilah cara asuhan orang tuaku. Tapi, aku punya banyak teman disini. Mulai dari teman SMP, SMA, samapai perkuliahan. Aku  tinggal bersama keluargaku  bersama papah lebih tepatnya. Mamah meninggal saat usiaku menginjak 14 tahun. Aku anak tunggal.
Hidupku sempat bahagia sebelumnya. Tapi itu lalu. Papah seorang pebisnis. Naik turun memang. Aku jarang pulang kampung semenjak sepeninggalan mamah.  Serasa aku asli jakarta saat itu. Aku biasa berjalan sendiri. pernah menjelajah kota jakarta dari timu ke barat. Papah percaya aku bisa jaga diri.
Senin itu. Malam selasa tepatnya. Papah pulang marah-marah karena tidak ada yang memasak nasi untuknya. Aku takut sebenarnya kalau papah marah. Tapi, aku biasa akan hal itu. Aku abaikan dengan tetap mendengar musik. Tiba-tiba papah masuk kamarku dengan membanting pintu. Aku kaget bukan main. Cuma itu. Aku tahu pasti bisnis papah ambruk lagi.  Dulu, kalo bisnis papah ambruk biasanya ada mamah yang menenangkan papah.  sayangnya sekarang tidak lagi. Mungkin karena itu papah semakin mengabaikan keberadaanku.
Semenjak perginya mamah. Papah jadi aneh. Aku tidak pernah menyaksikan papah menikah lagi. Tapi, aku selalu mendengar kalau papah telah menikah . Entah itu fitnah atau papah yang tidak jujur.  papah jarang di rumah. Apalagi kalau bisnisnya lagi bagus jarang sekali dia di rumah.aku sangat tidak terbuka dengan papah sejak itus.
“TINUT!”. Aku terbangun segera mengambil  iphone lalu. “new message”.  “woy ka! Apakabar lo?” . tidak diketahui dari siapa sms itu datang. cukup senang karena ternyata masih ada yang menanya kabar saya. Segera ku balas “siapa?”. Balasan singkat adalah kebiasaanku dari dulu. komukiasi bukan alternatif aku untuk mengekspresikan perasaan. “TINUT!”. “jeh sombong lo ya. Gue alka, lo vika kan?“ . begitu balasnya.  “ ooh alka. Masih inget gue aja”. Cukup kaget aku sebenarnya melihat nama itu muncul tiba-tiba. Dia orang yang aku suka dulu.  Tidak ada kabar, komunikasi, saling sapa pun tidak pernah lagi semenjak SMA. Aku hanya tau dia melanjutkan SMA di Insan Madani Boarding school. Tempat dulu aku SMP.  Tidak banyak cerita soal dia.
Aku pernah mengenakan hijab semasa SMP. Itu karena aku bersekolah di boarding. Semanjak aku di Negri “jilbab”adalah sesuatu yang aneh terdengar. Aku mengenakannya hanya ketika ramadhan. Orang tuaku tidak melarangnya. Mereka lebih suka aku mencari jalan sendiri. Karena itu aku tidak memiliki kepekaan sendiri terhadap masalah orang tuaku. Aku juga lebih suka membiarkan mereka mencari jalan sendiri. layaknya aku.
“TINUT!”. “new message” lagi. Masih dari orang yang sama, isinya “gak bakal inget gue kalo  twitter lo diem. Twietfeed lo matiin napa. banyak yang ngamuk tuh”. Aku pikir dia akan tetap bertanya soal keadaan  aku. Ternyata tidak. Okelah ini hal yang tidak penting untuk dibahas. “bodo” balasku.
Aku suka dia karena satu alasan. Freak.  Sms –ku masih terus berlanjut . begini kutipannya.
alka : “lu tu ya, makin tua makin jutek aja”.
vika : “lah ? gue cuek? Sejak kapan?”.
alka : “tau dah. Eh kabar lo gimana, anak ilkom kan ?”
vika : “kurang akal sehat. He eh “.
alka : “set dah. lo gila?!”.
vika : “ngabur gue. kira-kira gue nginep ke rumah siapa ya?” .
alka : “gacaya gue. serius lo? “
vika : “sumfah!”.
alka : “gila lo ya. Jam 2 malem woy skrang. Lo dimana? Jakarta? “
vika : “ lo kalo jadi gue juga bakal gini kayanya. Iye”.
alka : “ lo ke rumah anis aja. Jakarta kan dia. Bentar ye gue tanya orang-orang dulu. lu skarang    posisinya dimana ?”.
vika : “gue di tebet kayanya”.
awalnya aku coba menutupi kejadian ini.  tapi seakan akan ada angin segar di depan mata.
“BUK!” kasur empuk yang ku tiduri begitu berjuta rasanya dibanding  dengan sebuah sobekan kardus tipis tak bervolume.  
***
“nit.nit.nit”. alarm berbunyi coba membangunkanku dari tidur malam penuh petualang.  pukul menunjukan 11:30. Kebiasaanku  semenjak berpisah dari boarding. Selalu kesiangan soal waktu shalat. Terutama shalat subuh.
Aku segera bergegas wudhu lalu shalat. Shalat subuh pada waktu siang bukan hal yang jarang aku lakukan.  “ka, lo shalat apaan?”. Aku tersenyum sejenak .  dengan rasa sesal, malu, aku bilang “shalat subuh rin”.
Rini ini temen sejagat aku.  Dia sama seperti aku. Anak tunggal. Dia broken home. Tapi dia masih memiliki kedua orang tua yang kompak dalam mengasuh anak tapi jarang di rumah. Kedua orang tuanya lama sudah pisah ranjang tapi belum menggugat talak. Dia lebih sibuk dariku  saat in. Karena dia belajar untuk nyawa orang.  Di FK Yarsi dia mempelajarinya. Enam tahun aku mengenalnya tapi enam tahun dia tidak mengenalku. Tapi, sepertinya saat ini mungkin dia akan lebih  tahu banyak soal aku.
“ka, kok lo ngabur si?” . tiba-tiba rini mulai buka pembicaraan dengan begitu to the point. Aku mulai cerita semuanya dari awal sampai akhr. “trus bokap lo?”. Aku bingung harus jawab apa. “gatau juga gue kalo sola itu. Ga ada sama skali missed call masuk ke ip gue dari beliau. Males gue nyari tau”. “trus, skarang?”. “maksudnya?” aku bertanya balik dengan mimik bingung.  Dengan tidak enak hati rini menjawab“yaaa.. lo mau sampe kapan di rumah gue?”.  awalnya aku berat menjawab pertanyaan ini. tapi aku suka sesuatu yang tidak bertele-tele “ kalo, selamanya?”. Dengan mimik rini yang kaget dia bilang “APA??.. gue seneng-seneng aja rin, sebenarnya. Tapi mateng ga nih?”. Aku coba menjelaskannya dengan perlahan .”gini rin, gue ngekos di rumah lo deh gimana? Gue bakal kuliah sambil kerja. Gue pengen nyoba ikut casting”. Dengan sewot penuh humor dia bilang  “yaampuun ka.. ga adatuh di list dream gue pengen jadi emak-emak kos. calon dokter nih gue”.  “jayus lo ah, serius gue rin”. Aku masih tetap tidak terpancing oleh humornya. Dengan senyumnya yang ikhlas dia bilang “iya ka, itu urusan gampang, soal casting gue bisa kok bantu lo”. Sambil memeluknya aku bilang “makasih riin. Gue sayaaang banget sama lo”.
Jadilah kamar tamu milik aku seorang. Kamar kost yang cukup berkulatas dengan hargab 50.000 sebulan. Entah perhitungan dari mana rini menentukan semua itu.  Mungkin hanya cukup buat  beli keset baru setiap bulannya. Entahlah.
Selasa itu rini libur. Akhirnya kita memutuskan untuk nonton.  Bersama rio putihnya  dengan nomor plat mobil yang selalu  diganti setiap ulang tahunnya. Tapi, untuk design interior selalu seperti itu. Nuansa kalem serba putih seakan menggambarkan karakter  seorang rini.
Selama perjalanan kita bicara banyak. Aku yang lebih banyak bercerita di situ. Cerita soal semalam. Saat aku bertemu kembali dengan seseorang yang bernama “alka wirata”. aku bercerita banyak soal perasaanku dimalam itu. “gue seneng banget rin,  coba lo bayangin gue lagi sedih parah trus tiba-tiba ada yang sms gue, nanya kabar pula.dan yang nanya bukan orang biasa” .

No comments:

Post a Comment